Asal Usul Dan Penyebaran Kecoa Di Indonesia

Kecoa, serangga yang sering dianggap sebagai hama, ternyata memiliki sejarah panjang dalam penyebarannya di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Kecoa tidak selalu menjadi bagian dari ekosistem Indonesia. Menurut penelitian ilmuwan, kecoa baru masuk ke Indonesia sekitar 390 tahun yang lalu. Penelitian ini mengungkap fakta menarik tentang asal usul dan penyebaran kecoa yang sebagian besar berasal dari timur India dan Bangladesh.

Nama latin kecoa adalah Blattella germanica, namun nama ini sering menimbulkan kesalahpahaman. Banyak yang mengira kecoa berasal dari Jerman, padahal sebenarnya tidak demikian. Nama ini diberikan oleh Carl Linnaeus pada tahun 1767. Linnaeus mengklasifikasikan dan menamakan spesies ini dengan nama Blatta germanica. Blatta berasal dari bahasa Latin yang berarti kecoamenghindari cahayakecoa, sedangkan germanica digunakan karena spesimen penelitian diambil dari Jerman. Genus tersebut kemudian diubah menjadi Blattella untuk mengelompokkan varietas kecoa yang lebih kecil.

Dalam upaya memahami lebih jauh tentang kecoa Jerman, Theo Evans, Associate Professor of Applied Entomology di University of Western Australia, bersama Qian Tang, Research Associate in Evolutionary Biology dari Harvard University, melakukan penelitian mendalam. Mereka mengumpulkan sampel dari 281 kecoa yang tersebar di 17 negara di seluruh dunia.

Melalui komparasi kecoa Jerman dengan spesies yang mirip di Asia, mereka menemukan kesamaan yang signifikan. Lebih dari 80% sampel kecoa Jerman secara sempurna cocok, sementara sisa 20% dari sampel memiliki perbedaan. Penelitian ini mengindikasikan bahwa kecoa Jerman hampir identik dengan Blattella asahinai dari Teluk Benggala.

Evans dan Tang menggunakan sekuens DNA yang dikenal dengan SNPs (single nucleotide polymorphisms) untuk melacak asal usul penyebaran kecoa Jerman dari India ke seluruh dunia. Penelitian ini mengungkap dua gelombang utama migrasi kecoa. Gelombang pertama terjadi sekitar 1.200 tahun lalu dari Teluk Benggala ke arah barat, kemungkinan besar dibawa oleh pedagang dan tentara Kekhalifahan Umayyah dan Abbasiyah.

Gelombang migrasi kedua terjadi sekitar 390 tahun lalu ke arah timur menuju Indonesia. Kecoa ini diperkirakan menumpang kapal-kapal dagang Eropa seperti British East India Company atau Dutch East India Company (VOC). Perusahaan-perusahaan tersebut aktif berdagang di Asia Tenggara sejak awal abad ke-17, yang memungkinkan penyebaran kecoa dari India ke Indonesia.

Penelitian lebih lanjut menemukan bahwa kecoa Jerman tiba di Eropa sekitar 270 tahun yang lalu. Dari Eropa, kecoa Jerman kemudian menyebar ke seluruh dunia sekitar 120 tahun yang lalu. Ekspansi global ini sejalan dengan catatan sejarah yang menunjukkan keberadaan spesies baru di berbagai negara.

Menurut Evans dan Tang, perdagangan global berperan besar dalam penyebaran kecoa. Mereka menemukan bahwa populasi kecoa yang memiliki kekerabatan lebih dekat ditemukan di negara-negara dengan hubungan budaya dibandingkan dengan negara-negara yang hanya berdekatan secara geografis. Hal ini juga tercermin dalam penyebaran kecoa di Asia, yang meluas ke utara dan timur hingga mencapai Tiongkok dan Korea sekitar 170 tahun yang lalu.

Penelitian ini tidak hanya menambah pemahaman kita tentang sejarah penyebaran kecoa, tetapi juga menggarisbawahi peran penting perdagangan global dalam penyebaran spesies. Kecoa Jerman, yang kini ditemukan hampir di seluruh dunia, menjadi contoh menarik bagaimana aktivitas manusia dapat mempengaruhi penyebaran spesies di tingkat global.

Penelitian ini juga memberikan wawasan baru tentang adaptasi dan evolusi spesies dalam menghadapi perubahan lingkungan dan tantangan baru. Kecoa Jerman, yang awalnya hanya ditemukan di India, kini telah berhasil menyebar ke berbagai belahan dunia, menunjukkan kemampuan luar biasa untuk beradaptasi dan bertahan.

Dengan demikian, meskipun kecoa sering dianggap sebagai makhluk yang tidak diinginkan, keberadaannya sebenarnya mencerminkan keanekaragaman hayati dan interaksi kompleks antara manusia dan lingkungan. Penelitian ini menjadi pengingat pentingnya memahami sejarah dan dinamika penyebaran spesies untuk mengelola ekosistem kita dengan lebih baik.

(slawiayu/pastiin)

FBS Indonesia

#Hewan #Kecoa