BERITA
Home » Berita » Sejarah Kota Slawi Ayu Kabupaten Tegal
Sejarah Kota Slawi Ayu Kabupaten Tegal
Sejarah Kota Slawi Ayu Kabupaten Tegal

Sejarah Kota Slawi Ayu Kabupaten Tegal

Slawi atau biasa disebut Slawi Ayu merupakan sebuah kota kecil yang terletak tepat di jantung Kabupaten Tegal, hal ini juga yang menjadikan Kota Slawi Ayu sangat cocok untuk dijadikan sebagai ibukota dari Kabupaten Tegal, mengenai asal usul kota slawi terdapat sangkut pautnya dengan salah seorang tokoh yang cukup ternama tidak hanya di wilayah Kabupaten Tegal.

Cerita tentang asal usul Kota Slawi Ayu yaitu berawal ketika Ki Gede Sebayu mengadakan sayembara untuk memilih calon menantu untuk putrinya.

Dikisahkan bahwa salah satu putri Ki Gede sebayu yang bernama Nini Dwijayanti terkenal cerdas, cantik dan cekatan. kegemarannya menunggang kuda membuat banyak orang nenjadi kagum.

KI Gede Sebayu

Konon, ketika nini dwijayanti sedang diatas pelana kuda kesayangannya laksana bidadari yang turun dari langit,oleh karena itu banyak orang yang mengaguminya dan pemuda yang ingin menjadi suaminya.

Karena itu pula, KI Gede Sebayu sering didatangi utusan dari beberapa daerah hanya untuk menanyakan keadaan Nini Dwijayanti ada juga yang berterus terang untuk melamar nini.

Oleh sebab itu, Ki Gede Sebayu mengadakan sebuah sayembara untuk mengatasi persoalan ini, yaitu dengan sayembara yang Putrinya tentukan dengan siapapun orangnya yang dapat menebang atau merobohkan pohon jati raksasa di gunung sebelah selatan maka akan menjadi suaminya.

Tidak pandang itu orang kaya, berpangkat, ataupun orang miskin jelata.

Pada saat putri Ki Gede Sebayu menuturkan syarat dari calon suaminya itu, Ki Gede Sebayu pun menanyakan kenapa putrinya memilih syarat menebang jati raksasa itu. Putri Ki Gede Sebayu menjawab karena saat berteduh di bawah pohon jati raksasa itu untuk melepas rasa capek sejenak karena berkeliling dengan menunggang kuda.

Pada waktu berteduh di bawah pohon jati raksasa tersebut putri Ki Gede Sebayu pernah sesekali mendengar suara “Siapapun orangnya yang dapat menebang pohon ini, pantas dijadikan suami yang terhormat.”

Setelah dikabarkan kepada masyarakat, datanglah 25 (selawe = bahasa jawa artinya dua puluh lima) pemuda dengan disertai pengiringnya masing-masing.

Pemuda yang datang itu dari berbagai daerah ada yang dekat dan juga dari daerah yang jauh, ke 25 pemuda itu membawa Pethel (kapak untuk menebang dan memotong kayu) untuk dijadikan alat menebang pohon jati raksasa itu.

Untuk menghormati ke 25 peserta itu Ki Gede Sebayu membangun sebuah tempat semacam perkemahan untuk istirahat peserta yang jumlahnya selawe itu, pada zaman dahulu tentu saja belum ada tenda sehingga bangunan itu berupa sebuah candi yang berjumlah dua puluh lima.

Setiap peserta diberi waktu satu hari, dari pagi sampai menjelang maghrib, dan untuk melepas lelah para peserta pada malamnya dihibur dengan kesenian kenthrung yaitu sebuah kesenian dengan rebana dan kendang untuk mengiringi dongeng, yaitu cerita dari Baghdad tentang putri Joharmanik (Seorang gadis yang cerdas, cekatan, baik hati).

Setiap menjelang senja, masyarakat banyak berduyun-duyun ingin menyaksikan pohon jati raksasa itu roboh, namun pohon jati raksasa itu masih tetap berdiri tegak, dan pada malamnya pohon jati yang telah separo atau lebih itu hampir terpotong, kembali seperti semula, sehingga pada keesokan hari, peserta berikutnya melakukan pemotongan pohon jati raksasa itu dari awal.

Sejarah Kota Slawi Ayu Kabupaten Tegal

Hingga hari keduapuluh lima, tempat itu menjadi tempat keramaian, setelah dari pagi melakukan penebangan, peserta terakhir pun kecapaian, dan Ki Gede Sebayu terus berdzikir, dan Nini Dwijayanti pun semakin resah, kalau-kalau tidak ada yang bisa menebang pohon itu bagaimana nasibnya. Setelah menjelang sore, dan pohon jati raksasa itu masih berdiri tegak dan bisa dipastikan peserta terakhir itu tidak akan bisa menebangnya.

Kemudian datang seorang santri dengan diiringi oleh remaja-remaja yang ramah dan santun, santri itu memperkenalkan namanya Ki Jadug kepada Ki Gede Sebayu, dan memohon ijin untuk mengikuti sayembara tersebut, dan dengan santun Ki Gede Sebayu mengijinkan.

Kemudian Ki Jadug berwudhu, dan mengambil pethel, dan dengan melakukan sedikit jurus silat yang ia miliki, Ki Jadug mengayunkan pethel itu ke arah pohon jati raksasa, pada ayunan kelima, terdengar suara gemuruh angin lisus (angin puting beliung) yang mengarah ke pohon jati raksasa itu, seluruh masyarakat yang datang menyaksikanpun beramai-ramai menghindar dari area itu, dan pohon jati raksasa itupun roboh.

Setelah pohon jati raksasa itu roboh, Ki Gede Sebayu berkata “Saudaraku semua, saksikanlah bahwa pemuda inilah yang berhasil merobohkan pohon jati raksasa dan akan menjadi suami dari putri Nini Jayanti, Saksikan juga bahwa pohon jati raksasa ini milik kita bersama dan akan dijadikan tiang utama di keraton Tegal, Saksikan juga tempat ini kelak akan menjadi ramai, dan bernama Candi Selawe, sekarang kita bubar dan syukuran kepada Allah.”

Selang beberapa waktu, lama kelamaan masyarakat mengetahui bahwa Ki Jadug itu ternyata seorang bangsawan dari Mataram, yang mengembara untuk berguru mencari ilmu dan berdakwah dengan nama Abdul Ghofar, dan namanya dari Mataram adalah Pangeran Purbaya.

Lama kelamaan kawasan itu terkenal dengan nama Candi Selawe, dan dengan bergulirnya waktu sebutan Candi Selawe itupun menjadi akrab dengan sebutan Slawi.

Pada tahun 1956 slawi (Slawi Ayu) menjadi ibukota Kabupaten Tegal karena Pendopo yang berada di Tegal bagian utara akan dijadikan pendopo Kotamadya Tegal, namun perpindahan Kantor Pemerintahan Kabupaten Tegal baru dilakukan pada tahun 1986.

Demikian Sejarah Kota Slawi Ayu Kabupaten Tegal dan jika ada yang salah, dan bagi yang menyalahkan hendaknya memberikan masukan bagaimana yang benar tentang babad kota slawi. Kami tunggu pendapat anda di kolom komentar.

Sejarah Kota Slawi Ayu Kabupaten Tegal
55138
Komentar